Artikel

MAR 02

Bandara Baru Harapan Baru

March 02, 2013 | by admin 1

BANDARA BARU HARAPAN BARU

Oleh: Teguh Suripto

 

Yogyakarta sedang menanti hadirnya bandara baru, menggantikan bandara udara Adi Sucipto. Penantian ini semakin berarti karena menyandang predikat kota Pariwisata, Yogyakarta sangat memerlukan  bandara udara yang representative sebagai infrastruktur yang menunjang keberhasilan Pariwisata. Ada dua lokasi yang diajukan oleh pemerintah Yogyakarta sebagai bandara udara baru, yaitu kabupaten Gunung Kidul dan kabupaten Kulonprogo, kedua lokasi ini secara fisik memenuhi untuk dijadikan lokasi bandara udara, akan tetapi keputusan pemilihan lokasi sepenuhnya akan ditentukan oleh investor melalui studi kelayakan yang lengkap.

Menyikapi pembangunan bandara udara baru ini, pemerintah selain telah mempersiapkan lokasi baru, juga diharapkan mempersiapkan strategi pengembangan pariwisata yang baik. Sehingga keberadaan bandara yang baru nanti mampu mengatasi beberapa permasalahan di bidang pariwisata yang ada.

Beberapa permasalahan pariwisata di Yogyakarta saat ini adalah pertama selama ini pariwisata di Yogyakarta banyak didominasi oleh wisatawan nusantara, wisatawan asing belum banyak terlihat berkunjung ke obyek – obyek wisata di Yogyakarta. Kedua length of stay (lama tinggal) wisatawan asing belum terlihat baik, wisatawan asing banyak menjadikan Yogyakarta sebagai kota transit untuk menuju ke pulau Bali, atau sebaliknya wisatawan asing banyak menginap di pulau Bali sedangkan kedatangan ke Yogyakarta hanya sekedar ‘mampir’. Ketiga banyak obyek wisata yang kurang terpelihara dengan baik, sebagai contoh pantai parangtritis, pantai ini memberikan retribusi masuk yang besar, akan tetapi pemeliharaan terhadap pantai ini sangat buruk, sehingga gumuk pasir sebagai salah satu daya tarik bagi wisatawan asing telah banyak yang menghilang. Contoh lain kawasan cagar budaya kota gede yang memiliki nilai eksotis dan menjadi daya tarik wisatawan asing tidak tertata dengan baik, banyak bangunan yang bernilai artistic dan bersejarah telah musnah. Keempat Gunung kidul yang memiliki banyak pantai eksotik belum dilengkapi dengan sara akomodasi perhotelan yang bertaraf internasional, sehingga wisatawan asing tidak banyak berkunjung ke sana. Bandingkan dengan pantai Gilitrawangan di pulau Lombok, Gunung Kidul jauh lebih banyak potensi yang dapat dikembangkan, dan dipasarkan untuk wisatawan asing.Yang terakhir adalah permasalahan infrastruktur Bandara Internasional Adi Sucipto yang kurang nyaman, sehingga wisatawan yang datang mendapatkan pelayanan yang kurang memuaskan.

Banyaknya persoalan bidang pariwisata ini, memberikan gambaran kepada kita bahwa pemerintah memerlukan grand strategy untuk membangun kawasan wisatanya, agar Yogyakarta mampu menjadi “Bali” kedua bagi Indonesia. Strategi pembangunan kawasan wisata ini dapat dimulai dengan adanya pembangun bandara baru di Yogyakarta. Bandara baru yang akan menggantikan bandara Adi Sucipto, harus mampu menjadi ikon baru Yogyakarta sebagai kota pariwisata, untuk itu diperlukan perencanaan pembangunan bandara udara yang matang.

Perencanaan pembangunan bandara udara ini,  kita dapat menyimak dari apa yang telah dilakukan oleh Malaysia. Negara ini memiliki visi yang jauh untuk membangun sebuah bandara, sehingga orientasi pembangunan bandara tidak hanya didefinisikan untuk sekarang akan tetapi telah terdefinisikan untuk mengantisipasi kondisi di masa  depan. Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) disiapkan dengan matang, mereka telah mempersiapkan 10.000 hektar untuk pengembangan ke depan. Saat beroperasi Juni 1998 KLIA disiapkan untuk 25 juta penumpang per tahun, namun delapan tahun kemudian kapasitasnya ditambah dengan membangun Kuala Lumpur Low Cost Carrier Terminal. Dampak postif dari pembangunan terminal ini adalah KLIA 2 ini dibangun sebelum KLIA 1 menjadi sesak oleh penumpang, akibatnya KLIA 2 menjadi bandara udara yang di desain untuk terminal maskapai penerbangan berbiaya rendah terbesar di asia.

Pembangunan bandara ini menghabiskan dana sebesar 3,8 miliar ringgit Malaysia atau setara dengan 11,4 triliun rupiah. Luas KLIA 2 total menjadi 257.000 meter persegi, dengan desain yang modern yaitu ada landasan pacu ketiga, terminal control baru, jembatan antar terminal di mana pesawat dapat melintas dibawahnya (aerobridges). Konsep ini menarik minat Air Asia sebagai maskapai berkonsep Low Cost Carrier untuk menjadikan KLIA sebagai markas besarnya untuk wilayah asia. Alhasil Malaysia pun terbang “lebih tinggi” diantara Negara asia lainnya. Konsep ini dapat kita jadikan landasan berpikir dalam membangun bandara baru di Yogyakarta, sehingga kita mampu memiliki bandara yang lebih baik dari mereka.

Selain konsep lokasi, desain bandara hendaknya mengadopsi budaya lokal, misalnya bangunan bandara dapat di desain dengan konsep Joglo sebagai identitas rumah adat Yogyakarta, selain itu desain interior bermotifkan batik, sebagai lambang budaya asli Indonesia yang telah diakui oleh dunia melalui WHO. Konsep desain batik ini telah dimulai oleh maskapai penerbangan garuda, dengan mendesain interior cabinnya bernuansa batik, serta pramugari menggunakan seragam motif batik. Dengan konsep budaya lokal tersebut akan memberikan kesan tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Bandara Internasional bernuansa budaya lokal.

Disamping itu pembangunan Bandara baru ini mampu memberdayakan masyarakat local, penduduk asli disekitar lokasi bandara memperoleh manfaat yang luas dari keberadaan bandara, bukan justru menjadi tersingkir. Bandara udara itu nantinya diharapkan dapat menciptakan kota baru di wilayah Yogyakarta. Konsep ini sangat baik akan tetapi keberadaan masyarakat local jangan sampai terpinggirkan. Salah satu yang dapat dilakukan adalah mempertahankan desa – desa sekitar bandara sesuai aslinya, pemerintah daerah  hendaknya berani membuat kebijakan yang melindungi keberadaan desa – desa sekitar bandara misalnya penerapan pembatasan pembanguna wilayah untuk para pengembang. Pengembang diberikan batasan wilayah tertentu yang dapat dijadikan lokasi pengembangan perumahan baru. Dengan konsep ini desa – desa yang asli dan asri akan tetap terjaga dan dapat dikembangkan menjadi desa wisata yang menarik. Konsep ini dapat mencontoh pulau bali sebagai daerah tujuan wisata. Pulau bali telah mampu memadukan antara buday local, masyarakat local dan budaya modern, sehingga mereka mampu hidup berdampingan dengan baik.

Keberhasilan  konsep strategy pembangunan bandara udara di wilayah Yogyakarta untuk dilaksanakan  tentu akan sangat bergantung pada beberapa aspek yang mempengaruhinya, beberapa aspek antara lain : (Wit, Meyer, 2004) : Direction (pengawasan) sebaik apapun rencana strategi disusun tanpa adanya pengawasan yang baik, tentu tidak akan berhasil mencapai tujuannya, karena itu pengawasan perlu dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat, kedua Commitment (tanggung jawab) seluruh komponen baik pemerintah maupun  masyarakat hendaknya memiliki tanggung jawab yang sama untuk melaksanakan strategy yang telah direncanakan, ketiga Coordination (koordinasi) dibutuhkan koordinasi antara para stake holder untuk bersama – sama menjalankan strategy agar tercapai tujuan yang diharapkan. Keempat optimization (sikap optimis) strategy yang disusun pasti akan menghadapi suatu kendala atau hambatan, karena itu diperlukan sikap optimis bahwa strategy tersebut dapat terus dijalankan untuk mencapai tujuannya. Kelima programming (perencanaan) keseluruhan dari langkah pelaksanaan  strategy harus dapat direncanakan dan terukur, sehingga dapat diketahui kelemahan dan kekuatannya.

Oleh karena itu, pembangunan bandara udara yang baru di wilayah Yogyakarta, tidak hanya dapat terwujud secara fisik saja, akan tetapi perlu di rancang strategi pengembangannya, sehingga terwujud bandara udara yang mampu menjawab persoalan pariwisata Yogyakarta. Akhirnya segenap masyarakat Yogyakarta menunggu bandara baru dengan harapan baru. Go International. (Teguh Suripto, SE., MM.)