Artikel

JUL 21

Bencana Alam dan Pariwisata

July 21, 2017 | by R Saptoto

BENCANA ALAM dan PARIWISATA

(Suatu Kajian Teoritis)

Oleh : Mona Erythea Islami

               

Bencana sebagaimana diulas dalam Undang-undang No. 24 Tahun 2007 merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban manusia (Sabir, 2011 : 3). Seorang ahli antropologi, Bohannan (Miller, 2008 : 120) mengklasifikasi bencana menjadi dua kategori : 1). bencana yang bersifat fisik seperti banjir, gempa bumi, 2). bencana sosial seperti perang dan kelaparan. Bohannan berargumentasi bahwa bencana yang bersifat fisik berbeda dengan bencana sosial karena tidak mengakibatkan perubahan  sistem kebudayaan. Bencana yang bersifat fisik mengganggu kehidupan namun tidak menghancurkan sistem nilai dan menciptakan kebudayaan dan aturan baru sebagaimana akibat yang ditimbulkan oleh bencana sosial. Suatu bencana sosial terjadi ketika sistem sosial dan infrastruktur umum yang telah dirancang sebagai pendukung gagal memenuhi harapan masyarakat.

                Bencana dalam pandangan Irwan Abdullah (2006 : 142)  sebenarnya bukanlah barang baru karena ia telah muncul sejak puluhan ribu tahun yang lalu di berbagai tempat dalam berbagai bentuknya. Bencana bukan suatu peristiwa yang tiba-tiba dan tak terelakkan, tetapi menjadi bagian yang integral dari kehidupan rutin dan normal yang tanda-tandanya sudah dapat dikenali dan dapat diprediksi, meskipun dapat saja terjadi “unexamined normality” atas ketidakmampuan manusia dan sistem  didalam mengantisipasi suatu bencana (Abdullah, 2006 : 14). Oleh karenanya suatu bencana tidak harus mengganggu stabilitas, menyebabkan ketidakpastian, kekacauan, atau runtuhnya sistem sosial budaya, merusak kemampuan adaptasi masyarakat, serta membahayakan sistem pandangan dunia. Bencana bahkan merupakan “peluang” bagi perbaikan dan penataan hidup secara mendasar.  Di satu sisi suatu peristiwa alam menyebabkan trauma, luka, cacat, ataupun kematian; di sisi lain ia memberikan kesempatan bagi perubahan kehidupan manusia dalam berbagai aspek.

                Keterkaitan antara pariwisata dan bencana merupakan satu hal yang negatif. Pariwisata seringkali diasosiasikan dengan kesenangan, dan wisatawan melihat keamanan dan kenyamanan sebagai satu hal yang esensial dalam berwisata.  Bencana merupakan salah satu faktor yang sangat rentan mempengaruhi naik turunnya permintaan dalam industri pariwisata. Penurunan jumlah wisatawan sebagai akibat terjadinya tsunami tanggal 24 Desember 2004 dirasakan di beberapa kawasan wisata seperti di Phuket Thailand, di Langkawi Malaysia, China, Aceh Indonesia, dan Srilanka.  Erupsi Gunung Merapi yang baru saja terjadi di tahun 2010, telah mengakibatkan penurunan jumlah kunjungan wisatawan di beberapa obyek wisata di Sleman dan Jawa Tengah mencapai hampir 50 persen.  Namun tidak ada yang tidak mungkin dalam pariwisata, karena bisa saja  tempat terjadinya bencana kemudian diekspos menjadi daya tarik wisata yang eksotis. DeMond Shondell Miller (2008) menyebut wisata bencana  menyajikan kemiskinan dan kesempatan untuk merasakan kesusahan yang diderita oleh orang lain. Wisatawan puas mengunjungi tempat-tempat dengan impak emosi yang tinggi karena berhubungan  dengan kematian, bencana dan kekejaman. Komoditisasi tempat dan peristiwa tersebut tidak dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat mistik atau ekologis tetapi lebih merupakan cara untuk mendekatkan wisatawan pada realita dan mendapatkan pengalaman yang nyata.

                Pertanyaan yang muncul kemudian “Apakah bencana merupakan ancaman bagi pariwisata?”. Banyak perdebatan tentang pariwisata pasca bencana. Selama ini bencana dianggap sebagai ancaman, tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak orang tertarik untuk melihat dan menikmati dampak bencana. Sebut saja wajah lereng Merapi dan sebagian Kaliurang yang rusak akibat erupsi justru semakin menarik minat banyak orang untuk berkunjung. Pasca erupsi Merapi 2010, kawasan yang terimbas aktivitas Merapi seperti di dusun Bronggang, Ngancar, Glagah, Malang, Kepuh dan Kinahrejo merupakan tempat yang padat dikunjungi wisatawan. Tempat yang sebenarnya menyisakan tak lebih hamparan lautan pasir, bongkahan batu, puing bangunan, serta jejak vegetasi terbakar justru menjadi “point of interest” yang menarik orang untuk datang berkunjung. Terlebih eksploitasi alam ini dibarengi dengan sentuhan lain seperti kisah, mitos, dan sejarah terjadinya letusan serta pengalaman langsung warga yang mengalami peristiwa letusan Gunung Merapi tahun 2010. Kendati sederhana, kemasan semacam itu bisa menjadi wajah baru wisata lereng Merapi selain menjual hawa dinginnya.

                Namun demikian ada hal-hal yang tetap harus diperhatikan ketika menyuguhkan wisata bencana terutama sistem mitigasi bencana untuk menjamin keselamatan wisatawan dan orang-orang yang berada di kawasan wisata tersebut.  Masa pemulihan (recovery) setidaknya tidak hanya dipenuhi dengan kegiatan pembangunan kembali tetapi juga menciptakan kondisi pra bencana untuk sedini mungkin mengantisipasi jika terjadi bencana. Sehingga bencana tidak menjadi ancaman lagi bagi pariwisata, tetapi bisa menjadi peluang.  Hal ini menunjukkan bahwa pariwista merupakan sector yang paling adaptif terhadap segala situasi baik peristiwa ekonimi atau peristiwa alam. (Penulis adalah Dosen Tetap STP AMPTA)