Artikel

JUL 21

Dampak Negatif Dan Pembangungan Pariwisata Berkelanjutan

July 21, 2017 | by R Saptoto
Dampak Negatif Dan Pembangungan Pariwisata Berkelanjutan

 Oleh: Angela Ariani *)


 Pariwisata merupakan salah satu industri yang paling cepat berkembang di dunia dan merupakan sumber pendapatan utama bagi banyak negara. Menjadi industri yang berorientasi pada sumber daya manusia, pariwisata akan menyediakan banyak pekerjaan sehingga dapat membantu merevitalisasi ekonomi lokal.  Namun, seperti bentuk-bentuk pembangunan, pariwisata dapat juga menyebabkan beberapa masalah, seperti dislokasi sosial, hilangnya warisan budaya, ketergantungan ekonomi dan degradasi ekologi. Belajar tentang dampak negatif pariwisata telah menyebabkan banyak orang untuk membuat alternatif wisata yang lebih bertanggung jawab.  Berbagai bentuk wisata  alternatif yang berorientasi sebagai pariwisata berkelanjutan (Sustainable Tourism)  seperti: wisata berbasis alam , ekowisata , pariwisata sejarah dan pariwisata budaya. Pariwisata berkelanjutan menjadi sangat populer sehingga beberapa orang mengatakan bahwa apa yang saat ini kita sebut 'alternatif' akan menjadi 'utama' dalam satu dekade.

 Pembangunan pariwisata berkelanjutan, seperti disebutkan dalam Piagam Pariwisata Berkelanjutan (1995) adalah pembangunan yang dapat didukung secara ekologis sekaligus layak secara ekonomi, juga adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat.  Artinya, pembangunan berkelanjutan adalah upaya terpadu dan terorganisasi untuk mengembangkan kualitas hidup dengan cara mengatur penyediaan, pengembangan, pemanfaatan dan pemeliharaan sumber daya secara berkelanjutan.

 Semua kegiatan pariwisata dengan motivasi apapun - liburan, perjalanan bisnis, konferensi, perjalanan petualangan dan ekowisata - perlu menjadi berkelanjutan. Pariwisata berkelanjutan dapat pula didefinisikan sebagai "pariwisata yang menghormati penduduk lokal dan wisatawan, warisan budaya dan lingkungan". Hal ini merupakan usaha untuk memberikan orang dengan liburan yang menarik dan pendidikan , namun juga bermanfaat bagi penduduk lokal.

 Seperti semua bentuk pembangunan, pariwisata dapat memiliki dampak positif dan negatif. Tujuan dari pariwisata berkelanjutan adalah untuk memaksimalkan manfaat seperti penciptaan lapangan kerja, penerimaan devisa dan infrastruktur  serta  menjaga warisan budaya agar tetap hidup di masyarakat.  Selain itu, juga meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan sosial masyarakat.  Dampak negatif pariwisata terhadap lingkungan dapat disebabkan oleh kunjungan para wisatawan, namun tidak semua turis sebagai menyebabkan masalah tersebut. Oleh karena itu, penting untuk mengenali berbagai kategori wisatawan, ada 4 (empat)  kategori umum wisatawan yaitu: turis massal; wisatawan elit; penjelajah; dan wisatawan alternatif.   Mayoritas turis yang termasuk dalam kategori pariwisata massal, yang paling sering dianggap sebagai penyebab masalah yang berkaitan dengan pariwisata.

Sudah seharusnya pariwisata dapat  berkontribusi terhadap keberlanjutan pembangunan dan kehidupan  manusia.  Para wisatawan dan pelaku pariwisata  perlu mempertimbangkan cara-cara untuk mengurangi dampak negatif dari liburan mereka.  Dampak negatif dari pariwisata tentu sangat merugikan bagi masyarakat lokal yang dikunjungi para wisatawan.  Beberapa dampak negatif dibahas berikut ini.

Kerusakan Lingkungan, dapat disebabkan perilaku wisatawan yang mengganggu dan merusak kondisi lingkungan setempat. Kadang perilaku yang terlihat sepele seperti  membuang sampah, mencoret – coret  atau mengambil benda – benda dari daerah tujuan wisata.   Selain dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, namun pariwisata dapat menyebebkan Ketidakstabilan Ekonomi,  hal ini tersebut terkait dengan frekuensi kegiatan pariwisata  yang sangat fluktuatif sehingga membuat masyarakat rentan terhadap perubahan  kondisi. Kepadatan dan Kenyamanan, merupakan dampak negatif juga dari pariwisata, terlalu banyaknya wisatawan, apalagi disertai dengan mobilitas transportasi tentu  akan mengganggu kenyamanan wisatawan itu sendiri dan juga masyarakat yang hidup di daerah tersebut.  Hal ini terjadi baik pada daerah tujuan wisata di kota maupun di luar kota.  Dampak ini mulai sangat terasa di Yogyakarta, dibanding 10 tahun yang lalu. Pembangunan Berlebih, Pembangunan pariwisata jika tidak dikontrol dengan baik dapat mengganggu kenyamanan dan merusak lingkungan. Pembangunan resort, hotel, akses jalan dan fasilitas pendukung wisata lainnya. Sekalipun terencana, namun tidak menutup kemungkinan bahwa pembangunan hotel banyak yang kurang diperhatikan terkait dengan limbah, penggunaan air tanah dan tata kota serta ketersediaan infrastruktur.  Pembangunan yang tidak terencana yang menyebabkan masalah sanitasi seperti warung maupun gubuk-gubuk kumuh yang sering kali tumbuh secara sporadis di kawasan wisata.  Perubahan Budaya,  Perubahan budaya yang terjadi di masyarakat pada umumnya melalui proses, perubahan budaya lokal  seolah akan terjadi dengan begitu saja tanpa masyarakat menyadarinya.

Pariwisata yang berkelanjutan untuk mengurangi dampak negatif pariwisata hanya dapat terlaksana dengan sistem penyelenggaraan kepemerintahan  yang baik(good governance) yang melibatkan partisipasi aktif dan seimbang antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.  Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan tidak saja terkait dengan isu-isu lingkungan, tetapi juga isu demokrasi, hak asasi manusia dan isu lain yang lebih luas. Tak dapat dipungkiri, hingga saat ini konsep pembangunan berkelanjutan tersebut dianggap sebagai ‘resep’ pembangunan terbaik, termasuk pembangunan pariwisata.  Pembangunan berkelanjutan terutama terkait pada 4(empat) bidang, yaitu: Pembangunan yang tepat (keberlanjutan ekonomi); Ekuitas dan perdamaian (sustainability Sosial); Konservasi (keberlanjutan Lingkungan) ;dan Partisipasi demokratis (sustainability Politik).

 

 

 

*)  Dosen Tetap di Sekolah Tinggi Pariwisata pada Jurusan Hospitality