Artikel

JUL 21

EKOWISATA SEBAGAI BENTUK PARIWISATA MASA DEPAN YANG BERKELANJUTAN

July 21, 2017 | by R Saptoto

EKOWISATA SEBAGAI BENTUK PARIWISATA MASA DEPAN YANG BERKELANJUTAN

Oleh: Angela Ariani*)

Selama ini pariwisata sebagai sektor unggulan di beberapa negara telah terbukti berhasil memberikan kontribusi yang signifikan. Ada banyak indikator yang dapat menunjukkan kesuksesan pariwisata ini, seperti peningkatan investasi di bidang pembangunan sarana dan prasarana kepariwisataan, peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, perluasan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, serta penerimaan pemerintah dalam bentuk pajak yang telah menggerakkan perekonomian negara. Namun pariwisata bukan saja menyangkut soal ekonomi. Sebagai sektor yang multisektoral, pariwisata tidak berada dalam ruang hampa, melainkan ada dalam suatu sistem yang besar, yang komponennya saling terkait satu sama lain, dengan berbagai aspeknya, termasuk aspek sosial, budaya, lingkungan, politik, keamanan, dan seterusnya.

Bersamaan dengan masuknya isu lingkungan ke dalam berbagai segi kehidupan, muncullah istilah eco-tourism. Kekhawatiran akan lingkungan tidak lagi merupakan ‘minat khusus’, melainkan sudah menjadi minat banyak orang yang akhir-akhir ini mengunjungi alam karena timbulnya keinginan kuat untuk melihat berbagai bagian dunia sebelum semua kemegahannya lenyap. Tak heran bahwa dari perjalanan-perjalanan yang banyak dilakukan berasal dari perjalanan berbasis alam, yang sejak 1989 berkembang sangat pesat dengan kenaikan 30% persen setiap tahun. Di abad ini bahkan diperkirakan kurang lebih separuh dari 600 sampai 700 juta orang yang mengadakan perjalanan akan menuju ke alam (WTO, 2002)

Setiap masa, pariwisata mengalami perubahan istilah sesuai trend yang relevan seperti pada era tahun 1950-an sampai 1960-an, pariwisata dianggap suatu industri yang berada pada tahap ideal, bahwa dampak negatif terhadap lingkungan belum dirasakan. Berbeda dengan model pariwisata pada dekade tahun 1970-an, ditandai dengan munculnya kritik terhadap pariwisata oleh akademisi yang menilai pertumbuhan pariwisata dengan mass tourism sudah memberikan dampak negatif pada bidang ekonomi, sosial budaya dan lingkungan.

Tahun 1980-an, ditandai dengan munculnya pariwisata alternatif yang cenderung mengarah kepada pariwisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Perkembangan pengelolaan wisata menimbulkan banyak pemikiran, termasuk pemikiran pengembangan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism development), yang diawali dengan pemikiran kesalahan di masa lalu dan menciptakan kesadaran untuk kondisi masa depan. Pariwisata tidak hanya berorentasi terhadap pendapatan devisa atau kesempatan peluang kerja yang besar akan tetapi dapat menghadirkan sesuatu yang baru baik bagi wisatawan, masyarakat dan terutama terhadap alam. Pariwisata akan menguntungkan dan berdaya guna apabila semua komponen mengembangkan sikap untuk menghargai lingkungan dan sosial budaya sesuai dengan konsep sustainable development yaitu keberlanjutan ekonomi, keberlanjutan sosial budaya dan lingkungan (Kuhn, 2007).

Ide pembangunan berkelanjutan pertama kali dicetuskan oleh sebuah organisasi yang bernama International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN, 1980) dengan World Conservation Strategi-nya. Ada beberapa definisi dari Sustainable Development yang dikemukakan oleh beberapa pakar yang ahli di bidangnya. The World Tourism Organization memberikan batasan tentang Sustainable Tourism Development yang dikutip oleh Liu (2003) sebagai berikut :

Sustainable Tourism Development meet the need of present tourists and host regions while protecting and enhancing opportunity for the future. It is envisaged as leading to management of all resources in such a way that economic, social and aesthetic need can be fulfilled while maintaining culture integrity, essential ecological process, biological diversity and life support systems.

Jika dilihat dari definisinya, ekowisata dinyatakan sebagai perjalanan yang bertanggung jawab secara ekologis, mengunjungi wilayah yang masih asli, untuk menikmati dan menghargai keindahan alam (termasuk kebudayaan lokal) dan mempromosikan konservasi, memiliki efek negatif paling minim dan menyediakan kesempatan bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam kegiatan pariwisata. Tentu saja  tidak setiap daerah yang dikembangkan sebagai obyek wisata lokal dapat dijadikan sebagai wisata massal. Hal ini disebabkan oleh adanya keterbatasan dari daya dukung lingkungan, ada pembatasan daerah yang perlu dikunjungi dan memiliki tiplogi tidak cocok dikembangkan untuk wisata massal. Seperti contoh : wisata taman laut, yang sangat sensitif dan riskan dalam daya dukungnya.

Sedangkan pengertian Ekowisata Berbasis Komunitas (community-based ecotourism) merupakan usaha ekowisata yang dimiliki, dikelola dan diawasi oleh masyarakat setempat. Masyarakat berperan aktif dalam kegiatan pengembangan ekowisata dari mulai perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan ekowisata sebanyak mungkin dinikmati oleh masyarakat setempat. Jadi dalam hal ini masyarakat memiliki wewenang yang memadai untuk mengendalikan kegiatan ekowisata.

Dengan pembangunan pariwisata berkelanjutan, aspek peningkatan kehidupan komunitas secara kualitas lebih didahulukan dibanding aspek ekonomi. Salah satu bagian pembangunan pariwisata berkelanjutan yang giat dikembangkan adalah ekowisata (ecotourism). Mengapa dimulai saat in? Dari sisi permintaan, saat ini sedang muncul trend wisata minat khusus (special interest tourism) sebagai kebalikan dari wisata massal. Wisatawan tidak menyukai lagi bentuk perjalanan dalam kelompok besar, tinggal di hotel mewah, tetapi mereka ingin mencari pengalaman baru dan belajar tentang lingkungan di daerah tujuan wisata, menikmati kebudayaan lokal dan menjalin kontak yang lebih dekat dengan masyarakat setempat. Kondisi ini dikuatkan oleh pendapat Fennel yang dikutip oleh Garrod dan Wilson (dalam Diarta, 2007), bahwa ekowisata diakui sebagai salah satu jenis pariwisata yang mampu menarik high spending tourist.

Dalam pengembangan ekowisata berbasis komunitas, keterlibatan masyarakat adalah hal yang mutlak. Masyarakat ikut merencanakan, melaksanakan kegiatan, memonitor, mengawasi dan pada akhirnya ikut memiliki kegiatan ekowisata. Salah satu tujuan pengembangan ekowisata adalah untuk memberikan alternatif tambahan pendapatAN bagi masyarakat setempat. Tetapi masyarakat tidak akan memperoleh pendapatan bila mereka tidak pro-aktif, sedangkan mereka tidak mungkin pro-aktif kalau mereka tidak merasa memiliki. Rasa memiliki haruslah dibangun dari awal kegiatan pengembangan ekowisata.

Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan ekowisata sangatlah penting karena dapat membantu meningkatkan rasa memiliki dari masyarakat, jangan sampai nanti mereka bersifat apatis terhadap fasilitas yang disediakan. Banyak contoh/kasus dimana pemerintah membangun fasilitas yang diperuntukkan bagi masyarakat, akhirnya terbengkalai begitu saja, tidak terawat bahkan kadang tidak bermanfaat sama sekali. Hal ini disebabkan karena masyarakat tidak dilibatkan dalam proses pengadaan fasilitas tersebut.                                    *) Dosen Tetap di Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA pada Jurusan Hospitality