Artikel

JUL 21

Kuliah Lapang Mahasiswa STP AMPTA

July 21, 2017 | by R Saptoto
Kuliah Lapang Mahasiswa STP AMPTA Jurusan Hospitality
Ke Desa Gubug Klakah Kabupaten Malang
Oleh :
Arif Dwi Saputra,S.S., M.M
 

Untuk ketigakalinya mahasiswa Jurusan Hospitality melakukan  Kuliah Lapang ke Desa Wisata Gubug Klakah Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang, setelah di tahun 2014 dan 2015 juga melakukan kunjungan ke sana. Kuliah Lapang dilaksanakan dari tanggal 19 Mei sampai dengan 23 Mei 2017, diikuti oleh 95 orang mahasiswa Semester IV dan 2 orang dosen pendamping. Kuliah Lapang ini merupakan bagian dari mata kuliah Perencanaan Ekowisata dan Manajemen Usaha Perjalanan. Kuliah lapang ini bertujuan untuk mencari tahu kesesuaian  antara teori yang didapat diperkuliahan dengan penerapannya di lapangan.
      Kegiatan Kuliah Lapang ini yang mengurusi segala sesuatunya adalah mahasiswa itu sendiri, sebagai bagian dari penerapan teori yang didapat dari mata kuliah Manajemen Usaha Perjalanan. Mahasiswa secara otomatis belajar membuat paket wisata dengan hitung-hitungan beaya perorangnya yang harus dikeluarkan oleh setiap mahasiswa beserta dengan itinerarynya.
      Hasil observasi yang telah dilakukan oleh mahasiswa selama tiga hari di lapangan adalah  adanya usaha yang dilakukan oleh pihak pengelola desa wisata agar wisatawan dapat ditahan lebih lama dengan menerapkannya pengelolaan dan perencanaan dalam pembuatan atraksi wisata, penerapan ekowisata dan keberlanjutannya, dan juga keterlibatan masyarakat yang mampu untuk menambah pendapatannya
      Untuk menahan lebih lama wisatawan agar tinggal lebih lama di desa wisata, atraksi wisata yang sudah ada seperti river tubing oleh pihak pengelola sudah dilakukan perubahan untuk  mengurangi kejenuhan wisatawan dengan menyediakan penambahan jalur yang tadinya hanya menyediakan jalur pendek sepanjang 1 km berkembang dengan adanya penambahan jalur menengah (1,5 km) dan jauh (2 km). Pada waktu kuliah lapang di tahun 2014 dan 2015 jalur menengah dan jauh ini belum ada.  Atraksi wisata petik apel juga dilakukan perubahan oleh pihak pengelola desa wisata agar dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung  dengan salah satu strateginya dengan menurunkan harga paket petik apel tersebut.
      Upaya yang dilakukan oleh pengelola desa wisata agar tingkat kunjungan wisatawan selalu tinggi dan wisatawan tidak jenuh adalah menciptakan atraksi baru disesuaikan dengan potensi baik alam maupun budaya yang ada di desa Gubug Klakah. Adapun atraksi baru yang ditampilkan oleh pihak pengelola disesuaikan dengan potensi alam adalah atraksi perah susu sapi. Rencana pembuatan atraksi perah susu ini sudah disampaikan oleh pihak pengeola desa wisata pada kunjungan mahasiswa STP AMPTA ditahun 2015, dan pada kuliah lapang tahun 2017 ini atraksi perah susu tersebut sudah berjalan. Atraksi perah susu ini dapat terlaksana dengan  bantuan dana yang didapat dari Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Peternakan. Dana tersebut digunakan untuk pembuatan kandang komunal dan alat pengolahan susu pasca diperah yang semuanya ini melibatkan peran serta masyarakat.
       Atraksi wisata yang disesuikan dengan potensi budaya desa Gubug Klakah adalah ditampilkan kesenian tradisional berupa tari tradisional topeng yang sudah berusia seratus tahun lebih yang diakhir tahun 1980-an sudah tidak pernah ditampilkan lagi di hadapan umum. Tarian topeng ini baru ditampilkan kembali pada acara forum diskusi antara mahasiswa STP AMPTA dengan pihak pengelola desa wisata sebagai bagian dari pembuatan atraksi wisata baru. Rencana kedepan tarian topeng khas desa Gubug Klakah baru akan ditampilkan dihadapan umum/wisatawan di tahun 2018, menunggu kesiapan anak-anak muda yang saat ini masih melakukan proses pelatihan tarian. Tarian ini nantinya disuguhkan terutama untuk wisatawan asing yang berkunjung ke desa wisata.
      Pemberdayaan dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan desa wisata sudah tinggi, hal ini bisa dilihat dari banyaknya rumah penduduk yang dijadikan homestay. Jumlah homestay yang ada sekarang di desa wisata berjumlah 80. Dengan pemberdayaan ini masyarakat merasakan manfaatnya karena mendapatkan penghasilan tambahan dari sektor pariwisata.
      Dari studi lapang yang dilakukan ini akhirnya mahasiswa menjadi tahu bagaimana pengelolaan suatu destinasi berbasis alam dan budaya yang benar sehingga kunjungan wisatawan dan pengelolaannya dapat terus berlanjut.