Artikel

JUL 21

Pariwisata Alam Hijau

July 21, 2017 | by R Saptoto

Pariwisata Berwawasan Alam-Hijau

Tanggung Jawab Segenap Elemen Pelaku Usaha Pariwisata.

Oleh : Angela Ariani


Mengutip beberapa poin dari TOURISM GLOBAL ETHIC, UN-WTO, bahwa: (1) Pengembangan pariwisata harus menjadi salah satu faktor dilaksanakannya pembangunan berkelanjutan (sustainable development); (2) Pengembangan pariwisata harus memberikan kontribusi pemahaman yang saling menguntungkan serta respek yang tinggi terhadap masyarakat lokal; dan (3) Pengembangan pariwisata merupakan aktifitas yang memberikan nilai manfaat atau keuntungan bagi masyarakat setempat, maka penulis tertarik menulis tentang pariwisata berwawasan alam-hijau. Adapun konsep pariwisata berwawasan alam-hijau adalah: (1) Destinasi utama ke daya tarik wisata alam yang dipelihara, dilindungi atau dicagarkan; (2) Pelibatan masyarakat sekitar dalam kegiatan pariwisata; (3) Keterlibatan wisatawan dalam upaya merawat aset alam; dan (4) Tujuannya adalah penyadaran ekologis.

            Berdasarkan pengalaman empiris, penulis sering dihadapkan pada permasalahan mengenai minimnya elemen pelaku pariwisata alam-hijau yang benar-benar berjiwa pengabdi masyarakat atau yang berwawasan lingkungan alam-hijau, baik dalam kuantitas maupun kualitas, sehingga menjadi kendala dalam pembangunan pariwisata pada umumnya dan pariwisata alam-hijau secara khusus. Selain dampak positif pada bidang ekonomi, pembangunan pariwisata juga memunculkan dampak-dampak negatif atau dampak-dampak yang tidak diharapkan. Dampak sosial budaya bisa berupa degradasi kesenian, konflik sosial, solidaritas sosial, konsumerisme, pola imitatif, kriminalitas dan sebagainya. Selain itu, pembangunan pariwisata juga menimbulkan dampak terabaikannya pelestarian lingkungan dan terpinggirkannya penduduk lokal. Untuk mengeliminir dampak negatif dan mengoptimalkan dampak positif, penulis mengemukakan formulasi perihal kontribusi segenap elemen pelaku pembangunan dan pengembangan pariwisata berwawasan alam-hijau sebagai berikut:

1.      Elemen pengunjung, dalam hal ini wisatawan: berpartisipasi dalam perawatan daya tarik wisata alam-hijau dan penyebaran informasi tentang potensi wisata alam-hijau serta memiliki kesadaran ekologis.

2.      Elemen dunia usaha, dalam hal ini pengusaha bidang pariwisata: meningkatkan investasi daya tarik wisata alam-hijau dan berpartisipasi dalam perawatan daya tarik wisata alam-hijau serta penyebaran informasi tentang potensi wisata alam-hijau.

3.      Elemen birokrat: program anggaran pariwisata alam dan pembuatan regulasi teknisnya serta program-program penyuluhan, pelatihan, seminar dan sejenisnya.

4.      Elemen masyarakat di sekitar daya tarik wisata alam-hijau: berpartisipasi aktif dalam pembentukan dan pengembangan Lembaga Swadaya Masyarakat alam-hijau dan peningkatan kualitas pemanu wisata alam hijau serta berpartisipasi dalam perawatan daya tarik wisata alam-hijau.

Bersamaan dengan meningkatnya aplikasi kontribusi elemen pelaku pengembangan pariwisata berwawasan alam hijau tersebut, kecenderungan saat ini banyak ditemui dan ditandai oleh berkembangnya gaya hidup dan kesadaran baru akan penghargaan yang lebih dalam terhadap nilai–nilai hubungan antar manusia dengan lingkungan alamnya. Perkembangan baru tersebut secara khusus ditunjukkan melalui bentuk – bentuk keterlibatan wisatawan dalam kegiatan–kegiatan di luar lapangan (out door activities), kepedulian akan permasalahan ekologi dan kelestarian alam, kemajuan akan ilmu pengetahuan dan pendidikan, penekanan dan penghargaan akan nilai–nilai estetika, kebutuhan pengembangan diri/pribadi serta keinginan untuk berinteraksi secara mendalam dengan masyarakat.

Aplikasi konsep-konsep pariwisata berwawasan alam-hijau sangat terlihat nyata dalam bentuk-bentuk pariwisata lingkungan (ecotourism). Jika dilihat dari definisinya, ekowisata dinyatakan sebagai perjalanan yang bertanggung jawab secara ekologis, mengunjungi wilayah yang masih asli, untuk menikmati dan menghargai keindahan alam (termasuk kebudayaan lokal) dan mempromosikan konservasi, memiliki efek negatif paling minim dan menyediakan kesempatan bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam kegiatan pariwisata. Sedangkan pengertian Ekowisata Berbasis Komunitas (community-based ecotourism) merupakan usaha ekowisata yang dimiliki, dikelola dan diawasi oleh masyarakat setempat. Masyarakat berperan aktif dalam kegiatan pengembangan ekowisata dari mulai perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan ekowisata sebanyak mungkin dinikmati oleh masyarakat setempat. Jadi dalam hal ini masyarakat memiliki wewenang yang memadai untuk mengendalikan kegiatan ekowisata. Pengembangan ekowisata berbasis komunitas tidak bisa dilaksanakan oleh satu elemen pelaku saja, pengembangan ekowisata harus dilakukan oleh semua pihak yang terkait baik langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan ekowisata. Semua pihak yang terkait harus memiliki kepedulian dan komitmen untuk melaksanakan pengembangan ekowisata.

Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap keberhasilan pengembangan ekowisata sebagai perwujudan konsep pariwisata berwawasan alam-hijau dan sekaligus sebagai realisasi tanggung jawab segenap elemen pelaku di Indonesia adalah:

  1. Masyarakat, khususnya yang bermukim disekitar daya tarik wisata alam-hijau. Harus disosialisasikan dan dijelaskan mengenai pengembangan ekowisata yang akan dilakukan, khususnya mengenai dampak dan manfaat apa yang bisa diperoleh. Bisakah masyarakat menerima kegiatan ekowisata dan maukah mereka berpartisipasi?. Perlu waktu memang untuk memperoleh 'kata sepakat' dengan masyarakat. Masyarakat memiliki hak untuk menerima atau menolak pengembangan ekowisata. Suara dan aspirasi masyarakat harus menjadi bagian dari pengembangan ekowisata. Masyarakat juga harus memiliki kendali terhadap pengembangaan ekowisata. Oleh karena itu mereka harus menjadi tokoh sentral dalam tim pengembangan ekowisata.
  2. Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab terhadap kelestarian dan kesehatan lingkungan serta kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu PEMDA, dari mulai Bupati dan dinas-dinas yang terkait harus menjadi anggota tim pengembang ekowisata. Harus ada sinergi antara kegiatan pengembangan ekowisata dengan program kerja dari dinas-dinas terkait.
  3. Pengusaha pariwisata, dalam hal ini para tour operator, karena pada dasarnya merekalah yang memilki pasar wisata disamping itu mereka juga memiliki tanggung jawab untuk melakukan kegiatan 'community development' untuk masyarakat yang bermukim disekitar daya tarik wisata.

Akan tetapi, dalam pengembangan ekowisata perlu menyelenggarakan pengelolaan pengunjung (visitor management) yang tepat untuk mengantisipasi peningkatan jumlah pengunjung sesuai dengan carrying capacity dari kawasan tersebut untuk menghindari dari kerusakan lingkungan.

             Pengembangan ekowisata untuk program wisata berkelanjutan, yang paling utama perlu diperhatikan adalah kesadaran masing – masing elemen pelaku yang terkait dalam ekowisata tersebut, mulai dari wisatawan, tour operator, pengelola kawasan wisata tersebut, termasuk masyarakat sekitar. Yang tidak kalah penting adalah pemerintah agar mempunyai kesadaran, pengetahuan dan pemahaman tentang ekowisata berkelanjutan.

            Sebagai akhir dari tulisan ini, penulis membuat resume bahwa dalam pengembangan ekowisata berbasis komunitas, keterlibatan masyarakat adalah hal yang mutlak. Masyarakat ikut merencanakan, melaksanakan kegiatan, memonitor, mengawasi dan pada akhirnya ikut memiliki kegiatan ekowisata. Salah satu tujuan pengembangan ekowisata adalah untuk memberikan alternatif tambahan pendapatan bagi masyarakat setempat. Tetapi masyarakat tidak akan memperoleh pendapatan bila mereka tidak pro-aktif, sedangkan mereka tidak mungkin pro-aktif kalau mereka tidak merasa memiliki. Rasa memiliki haruslah dibangun dari awal kegiatan pengembangan ekowisata.

Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan ekowisata sangatlah penting karena dapat membantu meningkatkan rasa memiliki dari masyarakat, jangan sampai mereka bersifat apatis terhadap fasilitas yang disediakan. Banyak contoh/kasus dimana pemerintah membangun fasilitas yang diperuntukkan bagi masyarakat, akhirnya terbengkelai begitu saja, tidak terawat bahkan kadang tidak bermanfaat sama sekali. Hal ini disebabkan karena masyarakat tidak dilibatkan dalam proses pengadaan fasilitas tersebut.

Ada banyak jenis pelatihan yang bisa dilaksanakan baik yang dikemas dalam bentuk pelatihan maupun penyuluhan-penyuluhan serta melalui 'coaching' yaitu pembinaan yang dilakukan oleh konsultan pendamping (community-organizer) yang ada di kawasan wisata. Pengetahuan tentang ekowisata juga seringkali disampaikan melalui rapat-rapat informal ditingkat kelompok maupun ditingkat pengurus. Jenis pelatihan yang diberikan disesuaikan dengan jenis produk ekowisata yang akan dikembangkan. Sedangkan perencanaan terhadap pengembangan produk ekowisata disesuaikan pula dengan potensi alam-hijau, kapasitas masyarakat, potensi pasar dan ketersediaan sumber-sumber daya lainnya.

 

Ditulis oleh: Angela Ariani,SH,M.MPar

(Dosen Tetap di Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta, pada jurusan Usaha Perjalanan Wisata)