Artikel

MAR 02

Pariwisata Bantaran Sungai

March 02, 2013 | by admin 1

WISATA BANTARAN SUNGAI

Oleh : Darnawi

 Saat ini yang terbayangkan di benak kita saat mendengar bantaran sungai  adalah sampah, kotor, dan kawasan kumuh.   Gambaran ini ada benarnya jika kita melongok kawasan bantaran sungai di tengah kota dan sekitarnya.  Problematika ini hampir ada di setiap kota-kota besar di Indonesia dan  tidak kurang upaya pemerintah menata kawasan ini agar menjadi lingkungan yang bersih dan nyaman, masyarakatpun sebenarnya menginginkan hal yang sama.  Namun hal tersebut ternyata tidak mudah untuk mewujudkannya, karena beberapa terkendala beberapa kepentingan.  Bantaran sungai adalah lahan pada kedua sisi sepanjang palung sungai dihitung dari tepi sungai sampai dengan kaki tanggul sebelah dalam. Bantaran sungai yang  seharusnya steril dan  menjadi ruang publik, saat ini telah banyak menjadi tempat pemukiman penduduk bahkan tempat membuang sampah.   Bantaran sungai yang menjadi pemukiman, kemungkinan sampah-sampah akan dibuang ke sungai, akibatnya akan terjadi penyempitan dan pendangkalan sungai bahkan menjadi sumber penyakit. Pada saat musim hujan, menjadi agenda rutin di bantaran sungai menjadi kunjungan banjir. Tidak hanya itu , kotoran, limbah dan sampah yang dibuang ke sungai akan mencemari sumur-sumur penduduk yang digunakan sebagai air minum dan keperluan sehari– hari.

Tak dapat dipungkiri, baik pemerintah maupun masyarakat disekitar bantaran sungai sebenarnya merindukan lingkungan hidup yang bersih, asri, nyaman dan sehat.  Namun kondisi saat ini khususnya di bantaran sungai ditengah kota yang telah terlanjur menjadi pemukiman, tidaklah perkara mudah untuk menjadikannya kawasan hijau.  Kemungkinan akan terlalu banyak biaya dan konflik sosial yang dapat timbul serta meresahkan masyarakat.  Sebenarnya penataan bantaran sungai telah dirintis oleh seorang budayawan, jauh sebelum pemerintah melakukan tindakan nyata.  Apa yg di lakukan Romo Mangun Wijaya pada tahun 70 an merupakan contoh pembangunan kawasan bantaran sungai Code menjadi suatu kawasan yang sangat humanis dan mampu menggerakkan potensi masyarakat.  Masyarakat tidak merasa dipinggirkan  atau  teraniaya dengan program-program yang beliau lakukan.   Penataan lingkungan berbasis masyarakat yang dilakukan Romo Mangun  masih merupakan metode yang paling tepat untuk diterapkan pada saat ini.  

Saat ini pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mulai mengembangkan gagasan wisata berbasis sungai.  Pariwisata sebagai andalan ekonomi di Yogyakarta sudah sepantasnya terus dikembangkan dengan produk – produk baru daerah tujuan wisata.  Wisatawan diberikan pilihan – pilihan obyek  wisata agar mereka betah dan semakin lama tinggal di Jogja.  Wisata di Jogja tidak akan cukup hanya dalam satu hari perjalanan saja.  Hal tersebut tentu akan mampu menggerakkan potensi ekonomi dan pada akhirnya akan mensejahterakan masyarakat.  Bantaran sungai sangat potensial dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata di Jogja, mengingat Jogja memiliki tiga alur sungai yang membelah kota.  Potensi tersebut dapat berupa: taman kota, taman kuliner, taman budaya, wisata air, jogging track, maupun sebagai jalur olah raga bersepeda.  Selain kawasan sungai Code di sekitar Kota Baru, rintisan lain telah dilakukan pemerintah Yogyakarta antara lain kalurahan Notoprajan yang terletak dibantaran sungai Winongo dan kalurahan Sorosutan di bantaran sungai Gajah Wong.  Disebut rintisan karena belum seluruh jalur bantaran sungai yang ada di Yogyakarta di kembangkan menjadi kawasan hijau yang saling terhubung satu dengan lainnya, belum adanya aksesebilitas dua arah, dari sungai ke darat dan dari darat ke sungai, dan Dalam hal ini pemerintah masih perlu melakukan environmental education and public awareness bagi masyarakat  sekitar bantaran sungai.   Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, tentang kepedulian pada lingkungan khususnya. Agar tujuan tersebut  tercapai perlu dilakukan khususnya kepada masyarakat di sekitar bantaran sungai, antara lain     : 1. Sosialisasi dan pengenalan tentang lingkungan hidup yang baik; 2. Penyebaran informasi (leaflet/brosur) ajakan menjaga lingkungan; 3. Pengetahuan tentang pengolahan sampah; 4. Membentuk forum komunikasi dan diskusi dalam masyarakat; 5. Pemberdayaan potensi ekonomi masyarakat dan ;6. Penyerahan pengelolaan bantaran sungai oleh masyarakat setempat.

Hal tersebut di atas perlu dilakukan sebelum program –program pembenahan diaplikasikan di lapangan. Sehingga setiap dilakukan survai lapangan, studi kelayakan atau sosialisasi program pembangunan oleh pemerintah, tidak akan menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat dan penafsiran negatif, seperti penggusuran.  Untuk percepatan penataan pembiayaan pembangunan bantaran sungai tentunya tidak dapat hanya mengandalkan Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah (APBD), namun partisipasi masyarakat setempat, masyarakat umum dan swasta, serta institusi pendidikan perlu untuk berperan serta, bahkan lebih menentukan keberhasilan penataan bantaran sungai. Tidak menutup kemungkinan bahwa program wisata alternatif bantaran sungai, akan menjadi program unggulan Daerah Istimewa Yogyakarta.  Bagian terpenting dari orientasi program penataan bantaran sungai, bukan hanya bertujuan membuka kawasan wisata baru namun yang lebih utama yaitu memberikan kesadaran dan ajakan kepada masyarakat untuk mengembangkan dan menjaga lingkungan hidup yang lebih baik. ***

(Darnawi,SE,MM.Par adalah Dosen STP AMPTA,Yogyakarta)