Artikel

JUL 21

Pertumbuhan Hotel Di Jogja

July 21, 2017 | by R Saptoto

HOTEL BERBINTANG DI JOGJA:

 TUMBUH SEMAKIN RAPAT, BERSAING SEMAKIN KETAT

 

Oleh: Budi Hermawan

 Yogyakarta semakin menarik bagi para investor untuk menanamkan dananya dalam usaha perhotelan.  Dapat kita lihat di berbagai penjuru kota, banyak hotel baru dibangun mulai dari jalan raya pinggiran kota sampai jalan sempit ditengah kota.  Hotel baru bermunculan, seperti cendawan tumbuh dimusim hujan.  Pertumbuhan hotel di Yogyakarta selayaknya kita sambut dengan baik, karena berarti mereka para investor mengharap pertumbuhan ekonomi yang  baik di kota ini.  Hotel  sebagai industry padat karya , tentu akan menyerap banyak tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan usaha lainnya seperti transportasi, kerajinan, kuliner dan pertanian.  Tumbuhnya hotel di Yogyakarta pertanda pertumbuhan ekonomi yang baik di kota ini dan pada akhirnya akan meningkatkan  pendapatan masyarakat maupun Pendapatan Asli Daerah.  Namun, disisi lain, tumbuhnya hotel di wilayah ini akan makin memperketat persaingan bisnis.

  Berdasar data statistik , pada tahun 2010  terdapat  37 hotel berbintang dengan kapasitas 3.595 kamar dan  Hotel melati sebanyak 415 hotel dengan kapasitas 7.270 kamar.    Pada tahun 2011  dibangun 14  hotel mulai dari bintang  satu sampai bintang lima,  dengan jumlah 890 kamar hotel, sedangkan hotel kelas melati ada tiga hotel dengan 106 kamar.   Dari data tersebut pada tahun 2011  di wilayah Yogyakarta berarti terdapat 51 hotel berbintang dengan jumlah 4.485 kamar dan hotel melati 418 dengan jumlah 7.376 kamar.  Pertumbuhan yang sangat signifikan  untuk hotel berbintang karena dalam tahun 2011 saja tumbuh 24,75%.  Sedangkan tahun 2012 – 2013 diperkirakan masih akan dibangun sekitar 13 hotel baru kategori bintang  dengan kapasitas sekitar 2.000 kamar.  Pertumbuhan hotel berbintang yang demikian pesat yang tentu mau tak mau akan mempertajam tingkat persaingan usaha.  Apalagi, jika laju pertumbuhan tersebut tidak disertai dengan pertumbuhan pasar/wisatawan. 

 

Apabila kita lihat statistik kunjungan wisatawan pada tahun 2010 pada hotel berbintang, wisatawan manca negara (wisman) dan  wisatawan nusantara (wisnus) yang menginap sejumlah 787.249 orang  dengan pertumbuhan 3,63 % dibanding tahun lalu. Tingkat hunian kamar   rata- rata pada hotel berbintang sebesar 56,76% dengan jumlah kamar terjual (room night) 717.198 kamar.   Pada tahun 2011  dengan tingkat kunjungan wisatawan yang menginap di hotel berbintang menurun menjadi sebesar 748.610 orang   atau  menurun 4,9%.  Sedangkan tingkat hunian kamar rata-rata sebesar 50,68% atau turun 6,08 poin, namun penjualan kamar justru meningkat kurang lebih sebesar 796.458 kamar.  Hal ini dikarenakan lama tinggal tamu meningkat (length of stay) dari 1,68 menjadi 1,81. Penurunan tingkat hunian kamar (room occupancy), selain disebabkan menurunnya jumlah tamu, juga disebabkan bertambahnya jumlah kamar di tahun 2011.  Apabila pada tahun 2012 terdapat tambahan kapasitas jumlah kamar sekitar 1.000 kamar saja dari hotel berbintang, tanpa peningkatan jumlah wisatawan yang proporsional maka kemungkinan dapat terjadi persaingan yang semakin ketat bahkan tidak menutup kemungkinan perang tariff.  Hal tersebut sangat tidak menguntungkan bagi bisnis perhotelan di Yogyakarta, baik yang menang maupun yang kalah bersaing.   Sebuah bisnis hospitality merupakan sebuah bisnis jasa yang mengedepankan pelayanan dan  dibangun dengan mempertahankan image, dimana salah satunya tariff kamar, apabila strategi harga  yang diambil dengan cara menurunkan tariff , maka kemungkinan akan sulit untuk beranjak naik kembali.  Harga yang rendah, tentu akan terkait dengan kecukupannya untuk mengcover seluruh biaya operasional yang sangat besar.  Resiko usaha ini tentu dapat menurunkan kualitas produk jasa nya dalam jangka panjang.     Alternatif menghindari perang tariff dalam bisnis ini  bukan hanya bersaing meningkatkan pelayanan  dengan  memberikan ‘value’ yang lebih pada tamu. Atau, mengatasi persaingan  dengan  membagi kue wisatawan secara merata.  Karena, dalam bisnis apapun  pada kenyataannya akan sulit berbagi konsumen dengan segmen pasar yang berbeda.

 

Kesuksesan bisnis hospitality tidak hanya ditentukan pada tingginya angka room occupancy, tetapi justru pada pencapaian REVPAR (Revenue per available Room) maupun harga rata-rata kamar terjual (Average rate per room sold) , sehingga perang tarif justru akan memperkecil angka ini, yang akan berdampak pada kegagalan bisnis.

 Bisnis hospitality mempunyai dua sumber utama, yaitu kamar dan makanan minuman. Penurunan tingkat hunian kamar dapat diantisipasi dengan peningkatan penjualan makanan dan minuman.  Tumbuhnya jumlah hotel baru selayaknya diimbangi dengan inovasi daya tarik wisata. Selain meningkatkan jumlah kunjungan tamu, hal ini penting untuk meningkatkan lama tinggal para tamu di Yogyakarta.    Saat ini bentuk wisata di  Yogyakarta meliputi wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition), wisata budaya,wisata spiritual, wisata alam, wisata minat khusus dan berbagai fasilitas wisata lainnya. Adapun penyelenggaraan MICE sebanyak 4.509 kali per tahun atau sekitar 12 kali per hari. Penyelenggaraan MICE merupakan potensi yang luar biasa,  terutama padatnya acara di akhir tahun, banyak instansi pemerintah maupun swasta dan pribadi yang menyelenggarakan  workshop,  seminar, meeting maupun wedding  di beberapa hotel berbintang.  MICE lebih banyak mendongkrak penjualan makanan dan minuman dibandingkan kamar.   Saat ini penyelenggaraan MICE  kebanyakan lebih pada penyelenggaraan Meeting dan Convention, sedangkan  dari  Incentive dan Exhibition belum banyak digarap oleh pihak hotel.  Ditengah persaingan bisnis hotel berbintang yang semakin ketat saat ini, tentu manajemen tidak dapat  hanya mengandalkan promosi internal untuk menawarkan hotelnya, namun harus bersinergi dengan elemen pariwisata lainnya untuk mendatangkan tamu sebanyak-banyaknya, secara khusus untuk peningkatan event MICE di Yogyakarta.   Elemen-elemen pariwisata terkait seperti Dinas Pariwisata Daerah Yogyakarta, Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI)ASITA,HPI,  INCCA (Indonesia Congress & Convention Association), Professional Exhibition Organizer (PEO), Professional Conference Organizer (PCO), perlu bersinergy agar Yogyakarta tidak hanya sebagai tempat event Nasional akan tetapi juga event kelas dunia. Sehingga, semakin ketatnya persaingan bisnis antar hotel berbintang, justru harus memacu para hotel untuk bersinergy menarik tingkat kunjungan wisatawan ke Yogyakarta, bukan justru berkelahi dalam satu kandang.

Selain MICE,  wisata kuliner merupakan bidang yang sangat potensial untuk di “tarik” ke dalam hotel berbintang.  Ragam kuliner khas Yogyakarta maupun Jawa  sangat menarik minat tamu baik wisatawan nusantara maupun manca negara.  Disetiap sudut kota  setiap pusat kuliner ramai dikunjungi wisatawan.  Akan tetapi, banyak pula dari wisatawan yang sebenarnya potensial enggan untuk mencoba, karena masalah hygiene dan sanitasi pengelolaannya.    Suasana kuliner yang ramai di luar, sangat berbeda dengan suasana restaurant hotel yang relative sepi dari tamu luar.  Restaurant hotel seringkali ramai  oleh para tamu yang sebagian besar menginap atau MICE.  Hanya sedikit tamu, yang secara khusus berkunjung untuk makan di hotel.    Jumlah cover  perlu ditingkatkan melalui segmen pasar yang  baru. Hampir di semua hotel berbintang memiliki Chef yang handal di bidang kuliner juga menghitung food cost. Tentunya dapat disajikan menu yang menarik namun tidak membuat tamu dari luar “alergi” untuk masuk ke restaurant hotel, sehingga omset penjualan dapat mengcover  biaya.    Wisatawan yang berkunjung di Daya Tarik Wisata di Yogyakarta tahun 2010 sebesar 8.270.988 orang, jika 25% saja atau sekitar 2.067.000 dapat ditarik untuk wisata kuliner di hotel, merupakan hal yang sangat potensial.

 

Pertumbuhan hotel berbintang yang tinggi di wilayah Yogyakarta, harus diimbangi dengan pertumbuhan jumlah wisatawan yang tinggi pula, agar bisnis ini tetap dalam iklim usaha yang kondusif.   Persaingan yang ketat tidak perlu disikapi pesimis, namun sebaliknya justru menambah kreatifitas dan bersinergy antar hotel untuk menarik wisatawan ke Yogyakarta.  Guyub Rukun Mbangun Pariwisata Ngayogyakarta, seperti tema  HUT PHRI ke 43 tahun.***