Artikel

MAR 02

ReBranding Pariwisata Jogja

March 02, 2013 | by admin 1

REBRANDING PARIWISATA JOGJA

 M. Hardi Wahyono, Drs, SS *

 

 

Kunjungan dalam pariwisata pada dasarnya adalah akselerasi wisatawan dalam jaringan yang spesifik meliputi kemudahan, kepastian, kelancaran disepanjang perjalanan, berorientasi pada kepentingan wisatawan agar mereka memperoleh serangkaian kepuasan maksimal dari obyek wisata yang mereka kunjungi.

 

Akselerasi wisatawan  harus menyatu dalam jaringan yang sinkron dan harmoni kondisi destinasi dengan karakteristik wisatawan.  Mulai dari motivasi dan keputusan berwisata sampai berada di destinasi untuk mendapatkan pengalaman, experience dari suasana “beda”atas bobot lokalitas yang benar-benar kompetitif untuk menguasai pasar wisatawan yang dikristalisasikan melalui  brand sebuah destinasi.

 

 

Sebuah brand dapat menjadi lokomotif setiap produk tawaran, apabila brand selalu di aktivasi dalam  pariwisata.  Semua stakeholders harus berperan aktif  untuk membangkitkan brand pariwisata Jogja.  Hotel , restaurant, kerajinan, transport, pengelola obyek wisata, museum, dan pemerintah.  Dinas Pariwisata DIY bertindak sebagai komandan, sebagai generator utama dalam menata dan mengaktivasi ulang nilai unggulan obyek wisata Jogja.  Para stakeholders harus aktif mengangkat kembali popularitas destinasi  wisata Jogja, menurunkan hambatan local agar wisatawan lebih mobile dalam zona kunjungan, perilaku masyarakat harus menguntungkan.   Aktivasi Sapta Pesona  harus bertumpu pada frame nilai budaya yang terus menerus digairahkan.  Stakeholders dan masyarakat perlu menghindari tindakan yang membuat wisatawan resah, tidak nyaman, “mengejar-ngejar” wisatawan, merugikan wisatawan, banting harga untuk meningkatkan penjualan, hal tersebut justru akan melemahkan daya tawar nilai produk pariwisata Jogja itu sendiri.

 

Pengeuatan aspek brand destinasi, perlu diakselerasi untuk meningkatkan image dengan sentuhan rebranding dan revitalisasi makna, semua ditujukan ke alamat - alamat potensial calon wisatawan berdomisili dan bagi wisatawan yang berkunjung ulang.    Dinamika branding dan aspek komersial pariwisata menuntut komitmen insan pariwisata untuk memperbesar peluang ekonomi pariwisata yang diintensifkan oleh trend global pariwisata.

 

Dalam pariwisata, rebranding dilakukan untuk mempengaruhi opini masyarakat luas, DIY baru saja mengalami perubahan lingkungan  yang mendadak akibat erupsi Merapi, perubahan opini  wisatawan mudah terjadi, wisatawan semakin tidak mau ambil resiko, semakin kritis.  Opini tersebut tentu akan melemahkan kekuatan brand.  Kemampuan memoles ulang produk lokal ( termasuk perilaku masyarakat) menjadi generic ( dapat diterima) , hal ini bukan berarti akan kehilangan gengsi.

 

Agar rebranding pariwisata Jogja  bias sukses, maka dukungan tindakan riil mutlak diperlukan terutama dalam (1) perbaikan ketersediaan fasilitas pariwisata yang terpadu, dan up date bagi wisatawan, (2) perbaikan mutu wisata minat khusus dalam jumlah lebih besar, mengintensifkan kesenian lokal, budaya dan kearifan berbasis etika lokal harus mewarnai eco yang melimpah di Jogja, film tourism, adventure, dan heritage tourism., (3) meningatkan kualitas penawaran aktual saat  wisatawan di destinasi  dengan varian layanan yang memenuhi perubahan  needs and wants wisatawan. (4). Meningkatkan varian  atraksi yang menggambarkan “spirit of Jogja”, dan program lainnya yang tidak membosankan. (5) . mengoptimalkan peranan makna Jogja Berhati Nyaman, mulai dari Bandara sebagai eco airport, stasiun kereta api, terminal bus, dan berbagai keragaman obyek wisata yang mengesankan.  Rebranding yang sukses mampu menjadi komunikator independend dalam rangka mencerahkan karakteristik destinasi, melipatgandakan jumlah target audience yang menangkap pesan destinasi , lebih dikenal, lebih mudah dikunjungi, lebih menarik dari sebelum perubahan keadaan ( erupsi Merapi).

 

Kampanye rebranding yang didukung tindakan riil tersebut mampu secara maksimal   menyampaikan daya tarik “pesan komersial”lebih efektif  dan efisien ke pasar dalam negeri dan internasional.  Daya tarik lokalitas yang branded menjadi lokomotif ideal bagi obyek pariwisata, lebih dikenal, lebih dicintai dan dikonsumsi wisatawan. (*)

 

 

 

*) M. Hardi Wahyono, Drs, SS. Dosen STP AMPTA, Dosen Vokasi UGM, HPI DIY, Direktur Jogja Tourism Service, Ketua Bidang Kajian Pariwisata dan Budaya PD DIY.