Artikel

MAR 02

Travel Dialog DIY

March 02, 2013 | by admin 1

Mencermati Tradisi

TRAVEL DIALOG

Seperti diketahui volume kunjungan wisatawan domestik ke DIY selalu meningkat lebih dari pada turis asing, prosentasenya lebih dari 90 % dari total kunjungan sejak tahun 2009 lalu. Perbandingan angka demikian bahkan sudah ditemui sejak peristiwa hitam 119 diikuti kebijakan travel ban negara lain ke Nusantara, suasana dalam negeri yang tak kondusif berakibat langkanya wisatawan mancanegara berkunjung. Sejak itu pelaku bisnis pariwisata ramai berusaha melirik kue domestik dengan menggarap total pasar wisatawan nusantara. Upaya diatas terlihat beberapa Biro Perjalanan Wisata aktif berpromosi menarik calon wisnus, Agen Wisata mulai menjual potensi lokal untuk mereka lebih dari wisman, serta menurunnya pesanan barang kerajinan untuk pasar Eropa dibanding layanan pembelian domestik. Bahkan di pusat-pusat destinasi terasa sekali bagi Pemandu Wisata Asing, karena order justru berdatangan dari pemanduan wisatawan domestik maupun turis dari jiran yang berbahasa Melayu. Hal serupa ditempuh pemerintah, Dinas Pariwisata menggiatkan program promosi wisata ke kota-kota Nusantara melebihi anggaran untuk pasar wisata  MATA Kuala Lumpur atau ITB Berlin sedangkan aktivitas tingkat daerah dan provinsi menggiatkan promosinya dengan mendekatkan pelaku bisnis pariwisata dengan wisatawan domestic.

 

Satu dari banyak aktivitas pemasaran pariwisata  yang dilakukan oleh para pelaku bisnis pariwisata di Yogyakarta,  yang   dinahkodai Dinas Pariwisata Provinsi DIY pada empat tahun terakhir ini adalah dengan model dialog dengan wisatawan.  Wisata unggulan yang ditawarkan oleh Yogyakarta adalah wisata budaya, wisata alam dan wisata pendidikan. Ketiga bidang tersebut dikupas tuntas dan dikomunikasikan kepada para motivator pasar terutama pasar domestik seperti para Kepala Sekolah, Para pengelola Biro Perjalanan, Para kepala dinas dan para pramu wisata yang tergabung dalam Himpunan Pramu Wisata Indonesia. Melalui dialog diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara harapan harapan wisatawan yang diwakili oleh motivator pasar dengan pengalaman pengalaman yang selama ini dirasakan ataupun belum dirasakan tetapi mereka memperoleh informasi dari wisatawan yang pernah berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Sungguh TRADISI Dialog Pasar Wisata rutin dilakukan setahun minimal dua kali dengan tujuan kota dan provinsi di Indonesia. Rupanya kegiatan efektif mempertemukan wisatawan yang diwakili oleh motivator pasar dengan pelaku bisnis pariwisata rombongan Dinas Pariwisata Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mewakili 17 institusi pelaku pariwisata, terdiri dari peserta utusan Disparekraf Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul. Dari Kota Yogyakarta diwakili Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta, Taman Pintar, Unprok, Akprind dan Ampta. Ikut pula wakil PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko, Asita dan HPI serta beberapa pengusaha akomodasi dan restoran.

 

Semua informasi dari institusi peserta pelaku bisnis pariwisata yang disiapkan  mewakili setiap unsur, dirangkum dalam satu CD yang disiapkan oleh STP AMPTA dan kemudian dipresentasikan oleh Ketua HPI dan wakil yang ditunjuk, dan kemudian direspon oleh para  peserta dialog.

 

Proses Dialog Wisata

Setelah disampaikan selamat datang dari Kepala Dinas setempat dan dilanjukan dengan sambutan maksud dan tujuan kunjungan yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata DIY kemudian diteruskan dengan menyanyikan lagu wajib Selamat Datang Ke Yogyakarta oleh semua pelaku pariwisata mewakili DIY. Sambil menikmati Makanan Khas dari Yogyakarta,  Ketua HPI dan wakil yang ditunjuk melakukan presentasi singkat yaitu lebih kurang 40 menit dan dilanjutkan dengan tanya jawab. Setiap pertanyaan dari peserta dialog  akan dijawab oleh  pelaku pariwisata yang memiliki kesesuaian dengan materi  pertanyaan yang diajukan dan acara tanya jawab ini berlangsung lebih kurang 120 menit sesekali diselingi dengan pembagian doorprize.

 

Banyak hal penting terungkap dalam kegiatan Dialog Pasar Wisata kekota dan provinsi di Indonesia yang rata rata setiap acara dialog dihadiri 100an undangan para Guru dan Kepala Sekolah SD – SMP – SMA/SMK, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten, Kepala Dinas Pariwisata, Pengusaha Biro Perjalanan dan transportasi serta  wartawan.

Setelah presentasi berakhir dan  moderator mulai mengatur proses Tanya jawab, terungkap beberapa hasil dialog yang dapat menjadi bahan masukan untuk perbaikan kegaiatan layanan pariwisata ke depan, antara lain:

  • Perlunya koordinasi lebih baik sebelum kegiatan tour dilaksanakan, seperti Wisata Kraton mengapa harus melalui dua karcis pintu masuk.
  • Persoalan moda transportasi BECAK yang merusak pengalaman wisata Jogja, terkesan arogan dan ada permainan dengan SatPam Hotel.
  • Makelar penjualan Bakpia yang bekerjasama dengan Tukang Becak, wisatawan merasa dibohongi.
  • Destinasi Kota, yaitu Malioboro dan sekitarnya dirasakan pengunjung tidak aman dan kurang nyaman.

·         Kekaguman mereka terhadap obyek yang dipresentasikan, begitu sedikit yang mereka tahu selama ini, dan mereka bertanya perihal paket wisata menuju obyek tersebut.

·         Apakah Ada tempat transit wisatawan rombongan untuk aktivitas, mandi, sarapan yang lokasinya bisa akses dengan bus?

·         Apakah ada wisata pendidikan, kunjungan dari perguruan tinggi yang satu menuju perguruan tinggi yang lain sebagai salah satu aktivitas kunjungan studinya.

·         Hotel atau penginapan mana yang mampu menampung rombongan dalam jumlah besar dan lokasi akses dengan bus.?

  • Parkir di Alon-Alon Jogja dan seputar wilayah Kota disayangkan bisa menghilangkan citra tujuan wisata Kota Budaya yang nyaman.

Dari keluhan dan masukan peserta diatas, terdapat penjelasan klarifikasi jawaban oleh pelaku bisnis pariwisata. Dan menjadi jelaslah bahwa para pelaku bisnis pariwisata DIY belum mengetahui den memahami dengan baik tentang Perilaku wisatawan domestik  terbukti masih banyak layanan yang  diterima wisatawan yang berkunjung ke DIY masih kurang masksimal. Demikian sebaliknya  calon wisatawanpun ternyata perlu mengenal dengan baik Destinasi Wisata yang dikunjungi, paling tidak sudah mengadakan Survey Pendahuluan dan bekerjasama dengan Biro Perjalanan Wisata setempat agar lebih bisa mengantisipasi atau mempersempit peluang terjadinya kekurang nyamanan pada saat berkunjung.

 

Yogyakarta adalah representasi Kota dengan dukungan penuh dari Pemkot, ini telah diakui oleh PTO, sebuah Badan Promosi Pariwisata tingkat dunia. Maka tradisi promosi seperti kini dilakukan Dinas Pariwisata  yang dikenal dengn Travel Dialog ini, perlu terus ditingkatkan. Sebelum acara berakhir dibagikan beberapa door prize bagi peserta dialog. Adapun khusus keluhan destinasi Malioboro, saat ini telah ada pusat pengaduan PUT Malioboro telp 555467 yang bisa ditemui di kantor Disparda atau bisa menghubungi Bapak Purwanto 0816 426 1241. Solusi lain sebelum  melakukan tour ke Jogja, silahkan menghubungi Biro Perjalanan Wisata terdekat atau Himpunan Pramuwisata Indonesia DIY 0274-487650 atau Sekolah Tinggi Pariwisata  AMPTA Yogyakarta 0274-485115.

 

Untuk memperkuat tim pelaku bisnis pariwisata DIY dalam menjalankan tugas berdialog dengan wisatawan ke kota dan provinsi di waktu yang akan datang, Dinas Pariwisata Propinsi membuka lebar kesempatan menjadi peserta dan tidak dibatasi,  siapapun dan dari unsure apapun boleh mengikutinya, waktu pelaksanaan seputar bulan Maret dan bulan April setiap tahunnya dan masing masing dengan tujuan dua kota.

 

 

Drs. Prihatno, MM

Pengajar Tetap STP AMPTA Yogyakarta

Telah Mengikuti Travel Dialog

Sebanyak 11 kali atau 18 Kota tujuan.