Depan
Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) AMPTA, Yogyakarta
BERKARIR DI KAPAL PESIAR PDF Print E-mail
Written by Budi   
Rabu, 12 Mei 2010 09:40

Kerja di kapal pesiar memang mempunyai daya tarik tersendiri, kesempatan  keliling dunia dan gaji yang besar.  "Rata-rata gaji mereka US$5.000 - 6.000 per bulan yang berarti meraih devisa US$201 juta dari tenaga kerja yang bekerja di kapal pesiar. Ini jumlah yang luar biasa, apalagi tahun ini sudah banyak penawaran lagi dari kapal pesiar untuk tenaga kerja kita. Jadi siapa bilang kita hanya kirim tenaga kelas buruh saja," kata Sekretaris Ditjen Pemasaran Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar) Noviendi Makalam kepada kabarbisnis.com di Jakarta, Rabu (3/2/10).

Sekitar 35.000 orang Indonesia bekerja di kapal-kapal pesiar (cruise) yang menggelilingi penjuru dunia. Managemen cruise tertarik dengan tenaga kerja Indonesia lantaran murah senyum, ramah tamah, pekerja keras dan tak pernah bikin ulah. Jumlah tenaga kerja tiap tahunnya meningkat seiring dengan permintaan yang makin tinggi. Permintaan tenaga untuk kapal pesiar itu, lanjut Noviendi, biasanya pihak manajemen cruise langsung mendatangi kampus-kampus pariwisata di Indonesia, yang dinilai sudah memiliki kualitas standart pendidikan pariwisata internasional. Bahkan, umumnya para mahasiswa berkualitas, pinter yang masih tengah kuliah sudah mendapat teken kontrak. Ini sangat membanggakan. Bahkan yang lebih membanggakan lagi, hasil survey tahun 2009 yang dilakukan ED Bisnis Swedia tentang dua sikap manusia dunia menghadapi wisatawan yakni senyum dan salam. Hasilnya dari 66 negara dunia yang disurvey ternyata Indonesia menempati rangking utama karena dinilai Indonesia sebagai negara yang murah senyum, dengan memperoleh skor tertinggi 98, sedangkan terendah adalah Pakistan dan untuk negara tetangga Malaysia menempati posisi skor ke-26. Sementara untuk survey salam. Indonesia dan Hongkong sama-sama memperoleh angka tertinggi dengan memperoleh skor tertinggi 98, sedangkan terendah dengan skor 1 adalah Marako. Dengan survey ini menunjukkan Indonesia adalah negara hebat yang punya kelebihan, sehingga survey itu dipakai perusahaan internasional, terutama bidang pariwisata untuk mencari tenaga kerja Indonesia.

Last Updated ( Kamis, 22 Juli 2010 11:31 )
 
Industri Pariwisata, Penyedia Lapangan Kerja Yang Potensial PDF Print E-mail
Written by Budi   
Kamis, 04 Juni 2009 15:02

Sayangnya, masih sedikit para lulusan SMA yang menaruh minat emlanjutkan jenjang pendidikan tinggi di bidang ini, padahal peluang kerja dimasa mendatang masih  sangat luas, baik di dalam maupun luar negeri.  Lapangan kerja terbuka luas di bidang Perhotelan, Wisata, Restaurant, Laundry, Kapal Pesiar, Pendidikan, Obyek Wisata,Pemerintahan (PNS),dll

Industri Pariwisata menjanjikan jenjang karir yang baik dan pendapatan yang sangat layak.

Data dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,  diperkirakan jumlah wisatawan nusantara di akhir tahun 2009 saja akan menembus angka 218 juta orang  sedangkan wisatawan mancanegara sekitar 10 juta dengan jumlah perjalanan wisata lebih dari 300 juta trips. Angka-angka tersebut memberikan harapan terhadap peningkatan di bidang investasi, penyerapan tenaga kerja, peningkatan kontribusi kegiatan pariwisata terhadap pendapatan masyarakat dan pemerintah. Dan angka ini akan terus tumbuh seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Tentunya membutuhkan SDM pariwisata yang cukup besar jumlahnya.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Tahun 2004 – 2009 menjelaskanbahwa salah satu sasaran untuk meningkatkan sektor non migas adalah dengan meningkatkan kontribusi pariwisata dalam perolehan devisa menjadi sekitar USD 10 miliar pada tahun 2009, sehingga sektor pariwisata diharapkan mampu menjadi salah satu penghasil devisa besar. Berdasarkan hal tersebut maka kebijakan pembangunan kepariwisataan diarahkan untuk meningkatkan efektivitas pemasaran melalui kegiatan promosi dan pengembangan produk-produk wisata serta meningkatkan sinergi dalam jasa pelayanan pariwisata.

Neraca Satelit Pariwisata Nasional yang secaragaris besar adalah pada tahun 2003 jumlah pendapatan dari kepariwisataan mencapai hampir Rp 125 trilyun dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 7,52 juta orang (Nesparnas 2003, 2004), maka diperkirakan pada tahun 2009 jumlah pendapatan dari kepariwisataan akan mencapai lebih dari Rp 225 trilyun dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 12,5 juta orang. Dengan menggunakan data Nesparnas 2003 sebagai acuan, maka pada tahun 2009 diperkirakan tercipta perputaran uang (sebagai akibat dari multipliereffect) sebesar Rp 337,5 trilyun.

Pembangunan pariwisata nasional dimasa mendatang masih banyak membutuhkan para praktisi maupun pemikir dari lulusan Diploma maupun Strata 1 Pariwisata.

Last Updated ( Kamis, 04 Juni 2009 15:09 )
 
Studi Lanjut Diploma 3 ke Diploma 4 PDF Print E-mail
Written by AMPTA   
Jumat, 13 Februari 2009 13:33
Studi Lanjut D3  ke D4

Sekolah Tinggi pariwisata AMPTA memberikan kesempatan bagi para lulusan Diploma 3 (D3) jurusan Perhotelan dan Jurusan Usaha Perjalanan Wisata untuk melanjutkan studi ke jenjang sarjana Diploma 4 (D4).

Studi lanjut merupakan program khusus untuk memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin melanjutkan studi hingga  jenjang sarjana pariwisata.  Saat ini untuk sementara,  program sarjana pariwisata dapat ditempuh hanya melalui program Diploma IV ( D.IV).   Sedangkan untuk Studi lanjut dari lulusan Diploma3 ke jenjang Strata 1 (S1) Pariwisata – Hospitality, sesuai peraturan untuk sementara (untuk 2 tahun) belum dapat dilakukan karena Program Studi ini baru di buka.   

Beban seluruh SKS untuk Diploma 4 sebesar 152 SKS, sedangkan beban SKS untuk Diploma 3 sebesar 116 SKS.

Studi Lanjut dari lulusan  D3 ke D4, memerlukan konversi ( penyesuaian) beban SKS  menjadi sekitar 100 – 108 SKS.  Sehingga untuk melanjutkan ke jenjang Sarjana (D4) , masih harus menempuh 44 SKS  yang dapat ditempuh dalam 2 Semester.

Jenjang  Diploma 4 dibandingkan dengan Strata 1 merupakan tingkat yang sama yaitu jenjang Sarjana.  Diploma 4 merupakan pendidikan dengan orientasi Vokasi/ketrampilan (kejuruan) sedangkan  Strata 1 merupakan pendidikan dengan orientasi Akademik/keilmuan.

Ijazah Strata 1 dan Diploma4 ,keduannya mendapatkan pengakuan yang sama untuk dapat melamar (masuk) sebagai Calon Pegawai Negeri maupun pengembangan karirnya.  Hal tersebut sesuai dengan Perarturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2002 tentang Penggadaan Pegawai Negeri Sipil, dan   Perarturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2002 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil

 

Last Updated ( Rabu, 27 Januari 2010 10:44 )
 
Program Studi Baru di STIPAR AMPTA PDF Print E-mail
Written by STP AMPTA   
Senin, 09 Februari 2009 18:15
Program Studi Baru, Strata 1 (S1) Pariwisata – Hospitality

Kebutuhan Sumber Daya Manusia ( SDM) berkualitas di bidang kepariwisataan pada saat ini semakin berkembang. Kebutuhan tidak hanya terbatas pada tingkat pelayanan/pelaksana saja, akan tetapi sudah menuntut pada tingkat perencana, peneliti dan tingkat akademis.

Kepariwisataan sering dianggap muncul dan tumbuh begitu saja seiring pertumbuhan berbagai bidang. Dampaknya, kualitas pengelolaan pariwisata di Indonesia kurang sensitif terhadap pengembangan dan inovasi. Pengembangan pariwisata Indonesia selama ini dapat dikatakan tidak ada landasan akademis yang kuat. Banyak kebijakan pariwisata berdasarkan tujuan praktis dan ekonomis saja. Tidak banyak orang yang menyadari pentingnya ilmu kepariwisataan, bahkan tidak diakui sebagai disiplin ilmu mandiri sebelumnya.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mendukung penuh rencana perguruan tinggi (PT) untuk membuka program sarjana strata satu (S1) jurusan kepariwisataan. Alasannya, sarjana kepariwisataan saat ini masih jarang dan sedang dibutuhkan dunia. Itu berarti pertumbuhan industri kepariwisataan memang sedang bagus-bagusnya hampir di seluruh negara maju. Indonesia juga harus memberdayakan potensi kepariwisataannya secara maksimal dengan cara membuka program-program sarjana kepariwisataan di perguruan tinggi. 

Sejak diberlakukan otonomi daerah, semakin terasa kebutuhan Sarjana Pariwisata untuk menggali dan membangun potensi kepariwisataan daerah. Namun pada kenyataannya, masih sedikit tersedia Sarjana Pariwisata, untuk memenuhi kebutuhan tersebut. 

Rintisan Pariwisata sebagai ilmu mandiri, oleh beberapa perguruan Tinggi sudah dilakukan sejak tahun 1980 – an, tapi selalu gagal karena saat itu pariwisata dianggap bukan ilmu mandiri. Dari sisi akademik, Ilmu Pariwisata di Indonesia baru diakui sebagai suatu disiplin ilmu mandiri sejak 31 Maret 2008.  

Berdasarkan Surat Keputusan dari DIKTI no: 4316/D/T/2008 , tanggal 28 November 2008, Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA memperoleh ijin membuka Jurusan Pariwisata,Program Studi Hospitality, jenjang Strata Satu ( S-1) , Sarjana Pariwisata ( S Par).

Istilah industri hospitaliti dan pariwisata diserap dari hospitality and tourism industry dan dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia dengan istilah industri hospitaliti dan pariwisata. Untuk kegiatan komersial, para ekonom menggunakan istilah industri hospitaliti dalam konteks hospitality industry atau hospitality sector, sebagai bentuk jasa pelayanan atau service di bidang pariwisata.

Program studi Hospitality yang dibuka STIPAR AMPTA mencakup bidang kepariwisataan yang khususnya meliputi: Perjalanan Wisata ( travel), Akomodasi ( hotel dan Restaurant), dan Obyek Wisata ( Destination). Hospitality ( Strata 1 – S 1) merupakan program studi jenjang Sarjana ke tiga yang dibuka STIPAR AMPTA, setelah Program Studi Administrasi Hotel ( Diploma 4) dan Usaha Bisnis Perjalanan ( Diploma 4). Pada saat ini hanya terdapat 4 Perguruan Tinggi yang membuka program studi Pariwisata di Indonesia.
Strata 1 dan Diploma 4 bidang Kepariwisataan

Saat ini masih banyak masyarakat yang rancu antara jenjang sarjana Diploma 4 (D-4) dan Strata 1 (S-1). Banyak yang beranggapan bahwa S1 merupakan kelanjutan dari Diploma 4. Perlu ditegaskan, bahwa S-1 bukan kelanjutan D-4. Secara disiplin ilmu, keduanya sama berjenjang Sarjana, tetapi berbeda dalam orientasi pendidikannya. Diploma 4 merupakan pendidikan vokasi- praktis yang menekankan pada ketrampilan dan praktek. Sedangkan Strata 1 merupakan pendidikan akademik yang menekankan pada analisis dan keilmuan.

Last Updated ( Rabu, 27 Januari 2010 10:45 )